ASTM A.S. 53 -Spesifikasi standar untuk pipa baja karbon yang dilas dan tanpa sambungan yang dikembangkan oleh American Society for Testing and Materials (ASTM). Standar ini mencakup berbagai ukuran dan ketebalan pipa dan berlaku untuk sistem perpipaan yang digunakan untuk mengangkut gas, cairan, dan fluida lainnya.
Pipa ASTM A53 ditujukan untuk aplikasi mekanis dan tekanan dan juga dapat diterima untuk penggunaan biasa pada saluran uap, air, gas, dan udara.
Ukuran
½" – 12" beberapa keterbatasan tergantung pada tingkatan. Ukuran hingga 26" OD tersedia dalam jumlah terbatas.
Spesifikasi Standar untuk Pipa Baja, Hitam dan Celup Panas, Berlapis Seng, Dilas dan Tanpa Sambungan. Spesifikasi ini mencakup pipa baja hitam dan galvanis celup panas yang tanpa sambungan dan dilas.
Jenis Pipa ASTM A53
Jenis dan mutu pipa A53 berikut tercakup dalam spesifikasi ini:
Pipa Tipe F – Las ujung tungku, las kontinyu Kelas A
Pipa Tipe E - Las resistansi listrik, Kelas A dan B, disebut pipa A53 ERW
Pipa Tipe S - Seamless, Kelas A dan B, disebut pipa seamless A53
Aplikasi ASTM A53
1 Arsitektur: jaringan pipa maksimum di bawah ekstraksi air tanah lebih banyak ketika menara, boiler, penyaluran air panas dan sebagainya.
2 Permesinan, set bantalan, mesin pengolah dan aksesoris lainnya.
3 Kelas kelistrikan: distribusi gas, saluran fluida tenaga air.
4 Tabung antistatis pembangkit listrik tenaga angin.
SIFAT MEKANIK – PERSYARATAN TARIK
| mulus dan erw | Kelas A | Kelas B |
| Kekuatan Tarik, min, psi | 48,000 | 60,000 |
| Kekuatan Hasil | 30,000 | 35,000 |
PERSYARATAN KIMIA UNTUK A53
| Tanpa sambungan dan ERW | C maks % | Mn maks % | P maks % | S maks % |
| Kelas A | 0.25 | 0.95 | 0.05 | 0.045 |
| Kelas B | 0.30 | 1.20 | 0.05 | 0.045 |
| Jenis | Karbon maks. % | Mangan maks. % | Fosfor maks. % | Belerang maks. % | Tembaga maks. % | Nikel maks. % | kromium maks. % | Molibdenum maks. % | ||||||||
| Kelas A | Kelas B | Kelas A | Kelas B | Kelas A | Kelas B | Kelas A | Kelas B | Kelas A | Kelas B | Kelas A | Kelas B | Kelas A | Kelas B | Kelas A | Kelas B | |
| Tipe S (tanpa sambungan) | 0.25 | 0.30 | 0.95 | 1.2 | 0.05 | 0.05 | 0.045 | 0.045 | 0.40 | 0.40 | 0.40 | 0.40 | 0.15 | 0.15 | 0.08 | 0.08 |
| Tipe E (las resistansi listrik) | 0.25 | 0.30 | 0.95 | 1.2 | 0.05 | 0.05 | 0.045 | 0.045 | 0.40 | 0.40 | 0.40 | 0.40 | 0.15 | 0.15 | 0.08 | 0.08 |
| Tipe F (pipa las tungku) | 0.30 | / | 1.2 | / | 0.05 | / | 0.045 | / | 0.40 | / | 0.40 | / | 0.15 | / | 0.08 | / |
Persyaratan pembengkokan
Untuk pipa NPS 2 (DN50) dan di bawahnya, panjang pipa yang memadai harus mampu ditekuk dingin hingga 90° di sekeliling mandrel silinder yang diameternya dua belas kali diameter luar pipa, tanpa retak pengembangan di bagian mana pun dan tanpa membuka las.
Bila dipesan untuk dililitkan rapat, pipa harus ditekuk dingin hingga 180° di sekeliling mandrel silinder yang diameternya delapan kali diameter luar pipa, tanpa kegagalan.
Pipa ekstra kuat ganda di atas NPS 1 1/4 (DN 32) tidak perlu menjalani uji tekuk.
Tes perataan
Uji perataan akan dilakukan pada pipa di atas NPS 2 (DN 50) dengan semua ketebalan ekstra kuat dan ringan.
Untuk pipa tanpa sambungan, spesimen uji dengan panjang minimal 2 1/2 in. (60 mm) harus diratakan dingin di antara pelat paralel dalam dua tahap. Selama tahap pertama, yang merupakan uji keuletan, tidak ada retakan atau patahan pada permukaan dalam, luar, atau ujung. Selama tahap kedua, yang merupakan uji kekencangan, perataan harus dilanjutkan hingga spesimen uji patah atau sisi berlawanan dari pipa bertemu. Bukti material yang terlapisi atau tidak kokoh yang terlihat selama seluruh uji perataan harus menjadi alasan penolakan.
Untuk pipa las resistansi listrik, spesimen uji dengan panjang minimal 4 in. (100 mm) harus diratakan dingin di antara pelat paralel dalam tiga langkah, dengan las ditempatkan pada 0° atau 90° dari garis arah gaya. Selama langkah pertama, yang merupakan uji keuletan las, tidak boleh ada retakan atau patahan pada permukaan dalam atau luar pada las hingga jarak antara pelat kurang dari dua pertiga diameter pipa yang ditentukan. Sebagai langkah kedua, perataan harus dilanjutkan sebagai uji keuletan di luar las. Selama langkah kedua, tidak boleh ada retakan atau patahan pada permukaan dalam atau luar di luar las. Selama langkah ketiga, yang merupakan uji kekentalan, perataan harus dilanjutkan hingga spesimen uji patah atau dinding pipa yang berlawanan bertemu. Bukti material yang terlapisi atau tidak kokoh atau las yang tidak lengkap yang ditunjukkan oleh uji perataan harus menjadi penyebab penolakan.

